Semarakkan QRIS Cross Border Untuk UMKM Dalam Gebyar Melayu Pesisir
Semarakkan QRIS Cross Border Untuk UMKM Dalam Gebyar Melayu Pesisir
Oleh Jannatul Jasmine
Batam - “Kita ada potensi yang besar dari segi wisatawan karena berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura. Dengan adanya layanan QRIS Cross Border pada UMKM tentunya akan menjadi nilai tambah dari segi preferensi wisatawan asing. Kedua, adanya QRIS ini kita bisa mengontrol transaksi kita. Terakhir, UMKM akan mudah mendapatkan pembiayaan dari bank karena mutasi mudah di track untuk credit profiling. Pengembangan UMKM juga salah satu hal yang kita lakukan melalui Gebyar Melayu Pesisir yang disinergikan dengan negara Indonesia, Malaysia, Thailand Growth Triangle”, ucap seorang Kepala Tim BI Sistem Pembayaran bernama Taufik Ariesta, saat saya menemuinya di Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kepulauan Riau, Senin (25/09/2022).
Digitalisasi rupanya benar-benar menjanjikan kemudahan, salah satunya kemudahan dalam bertransaksi. Peluang ini pun dilirik oleh Bank Indonesia sebagai fasilitator dan regulator terkait dengan ambisinya untuk “Cinta, Bangga dan Paham Rupiah” melalui program Local Currency Settlement (LCS) yang kini diimplementasikan melalui QRIS Cross Border. QRIS adalah penyatuan berbagai macam kode QR yang merupakan nomor rekening dari berbagai PJP (Penyedia Jasa Pembayaran) yang ada di Indonesia melalui sistem SNAP (Standar Nasional Open API). Setelah membangun kolaborasi dengan bank sentral, lembaga switching, PJP serta pihak lain antarnegara, pembayaran, QR kini bisa direalisasikan antarnegara. QR milik Indonesia atau QRIS sudah bekerja sama dengan Malaysia dan Thailand dan akan terus diperluas ke negara-negara lainnya.
Begitu mendengar inovasi QRIS yang kini bisa digunakan antarnegara, pikiran saya rasa langsung tertuju kepada suatu tempat. Sebuah kota yang strategis dan maju, metropolitan, alamnya menarik wisatawan asing dan memiliki hubungan geografis dan eksklusif dengan negara lain. Saking dekatnya, kota itu kerap kali dijuluki sebagai Singapore van Riouwarchipel, atau dikenal sebagai Kota Batam. Kota ini sering menjadi transit hub bagi orang-orang yang berpergian dari atau ke Malaysia dan Singapur. Sebagai kota maju, Batam juga memiliki daya tarik lokasi MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) serta menjadi melting pot dari berbagai penduduk di wilayah Indonesia. Kondisi ini tentunya menjadi sebuah previlege bagi UMKM untuk mendapatkan konsumen internasional. Rasa penasaran saya akan hal itu telah terjawab setelah saya berkesempatan melakukan diskusi langsung dengan Kepala Tim Sistem Pembayaran Bank Indonesia mengenai QRIS Cross Border tepat satu hari sebelum peluncuran acara primadona Bank Indonesia KPw Kepri, yakni Gebyar Melayu Pesisir sekaligus saya mengikuti rangkaian acara tersebut.
Menggelorakan UMKM dalam Gebyar Melayu Pesisir
Selama 6 hari berturut-turut Gebyar Melayu Pesisir dilangsungkan, berbagai acara tidak pernah absen menghibur dan mengedukasi masyarakat sekitar. Acara ini menghadirkan pameran EXPO UMKM dari berbagai negara atas tema IMT-GT (Indonesia, Malaysia, Thailand - Growth Triangle). Ribuan masyarakat telah semarakkan acara ini dengan mengikuti rangkaian acara seminar, business matching dan EXPO. Berbagai pihak luar dilibatkan untuk meramaikan acara ini, mulai dari pelaku bisnis, pejabat negeri, penggiat kebudayaan lokal hingga artis untuk menarik masyarakat hadir dalam acara ini. Tenda-tenda putih terpasang rapih nan strategis di dekat pelabuhan internasional Harbour Bay Batam untuk menarik wisatawan lokal dan internasional. Berbagai produk lokal dan internasional dijajarkan sama rata di hadapan masyarakat tak lupa dengan menghadirkan papan akrilik QRIS Statis untuk bertransaksi. Tak hanya sampai disitu, edukasi untuk UMKM kian digaungkan melalui seminar nasional UMKM GMP 2023. Para partisipan menyimak dengan penuh antusiasme, mendengar sederet infotmasi mengenai potensi, tantangan dan strategi yang perlu dibangun agar UMKM bisa Go Ekspor. Seruan untuk menggunakan QR Cross-Border juga disampaikan oleh berbagai narasumber dari pihak bank sentral Indonesia, Malaysia dan Thailand agar pelaku UMKM semakin termotivasi menggunakan QRIS sebagai salah satu alat pembayarannya untuk meraih pasar internasional dan naik kelas. Dalam seminar tersebut juga dipaparkan bahwa Bank Indonesia juga melakukan serangkaian kebijakan pengembangan UMKM dari hulu ke hilir, penguatan fasilitasi akses pasar melalui business matching, dan penguatan sinegi dan kolaborasi dengan stakeholder.
Saya menjadi teringat, ketika gagasan QRIS Cross Border ini muncul dalam benak saya, UMKM menjadi pelaku yang paling saya khawatirkan eksistensinya. Pasalnya, kemudahan bertransaksi berskala internasional tentunya bisa membuat UMKM lokal harus semakin bersaing dengan UMKM luar. Kekhawatiran saya langsung terbayarkan ketika menyaksikan langsung seminar tersebut dan menerima jawaban memuaskan dari Pak Taufik. “QRIS kan mendukung inklusi keuangan, artinya kalau UMKM sudah menggunakan QRIS mereka sudah mendukung inklusi keuangan. Kita juga adakan pelatihan buat UMKM sehingga menjadi salah satu pertimbangan pemberian kredit dan otomatis UMKM berkembang. Kalau mereka berkembang bisa mendukung ekspor juga jadi seimbang karena tidak bisa kita pungkiri kita masih menggunakan beberapa produk luar negeri tapi yang kita dorong disini dari segi ekspornya sehingga bisa inklusi juga”, tutur beliau.
Agenda seminar dan edukasi dalam tiga hari berturut-turut sudah dilangsungkan, namun EXPO UMKM masih ramai dipenuhi pengunjung. Tenda-tenda putih itu semakin ramai dimalam hari. Agenda art performance, festival budaya hingga konser memberikan warna yang semakin berarti bagi pengunjung. Saya menyaksikan berbagai turis datang dari berbagai negara, Singapura, Thailand dan Malaysia. Mereka bertanya, memilah dan memilih sebelum membeli produk lokal. Transaksi QRIS Cross Border kerap kali tertangkap di depan mata saya. Semuanya tampak harmonis. Mereka yang baru saja mengenali QRIS Cross Border ini, juga melakukan percobaan QRIS Experience di salah satu booth dalam tenda putih tersebut. QRIS Cross Border ini pun nyatanya lebih disukai oleh pelaku UMKM. “Pakai QRIS memang jadi lebih mudah sih. Pembeli bisa langsung bayar begitu harga disebutkan. Gak perlu repot kasih kembalian juga”, ujar salah satu penjual Hiro Steak, sambil mengibaskan sate steak yang dibakarnya.
Biaya Membangun UMKM yang Naik Kelas
Saya kerap kali melakukan beberapa survei kepada berbagai UMKM di luar acara Gebyar Melayu Pesisir mengenai QRIS Cross Border ini. Realitanya, masih banyak UMKM yang belum mengenal dan mau menggunakan QRIS sebagai alat pembayaran. Minimnya tingkat literasi sudah menjadi alasan klasik dan bagi mereka yang sudah mengetahuinya mayoritas tetap enggan menggunakannya atas dasar pengenaan tarif MDR. MDR atau Merchant Discount Rate sendiri merupakan tarif yang dibebankan kepada UMKM dengan kriteria tertentu. Memang akan ada harga yang harus dibayar unuk sesuatu yang bernilai. Saya mengangguk paham dengan diskusi untuk menguak alasan dibalik pengenaan tarif MDR dengan Pak Taufik. “Jadi yang namanya inovasi dan pengembangan butuh biaya, dimana biaya itulah yang ada di komponen MDR itu untuk lebih mudah lagi, lebih cepat lagi. Yang kemudian kita dorong adalah bagaimana transaksi QRIS ini bisa masuk H+0 yang dimana belum semua PJP ini bisa saat ini. Kedua, MDR QRIS lebih murah dibandingkan yang lain. Sebenarnya, transaksi non tunai mayoritas ada MDR nya seperti kartu kredit. Tetapi, QRIS relatif lebih murah”, ujar pak Taufik.
Seluruh edukasi, bimbingan, kolaborasi dan infrastruktur untuk QRIS CrossBorder telah dibangun dan disusun sedemikian rupa melalui salah satu acara Gebyar Melayu Pesisir dan hal ini juga pasti memakan biaya yang besar. Akan tetapi, tidak hanya sampai disitu, seluruh pihak harus memiliki kesadaran bahwa inovasi ini benar-benar berdampak positif bagi semua orang, bagi ekonomi Indonesia. Setelah melakukan diskusi panjang, Pak Taufik menyampaikan suatu pesan penutup.
“Dari BI dan asosiasi sudah membuat suatu inovasi bagaimana untuk memudahkan dari pembayaran karena akan mendukung dari sisi bisnis mereka, kita ada potensi yang besar dari segi wisatawan. Dengan adanya QRIS Cross-Border akan memudahkan. Ketika UMKM yang satu ada QRIS Cross-Border dan engga pasti dia akan memilih UMKM yang punya QRIS-Cross Border karena akan lebih mudah. Jadi ambil lah suatu failitas yang akan menjadi peluang sebelum kesempatan datang ke orang lain, kedua adanya QRIS ini kita bisa mengontrol transaksi kita, terakhir adanya QRIS itu menjadi hal positif bagi UMKM untuk mendapatkan pembiayaan bagi UMKM dari perbankan. Jadi, manfaatkan itu untuk kemudahan yang bisa mendorong ekonomi juga karena ketika uang masuk ke perbankan maka akan bisa diputarkan dan bisa dimanfaatkan oleh orang lebih banyak dibandingkan disimpan di laci toko sehingga bisa membangun perekonomian.”
QRISnya satu, menangnya banyak!
Participant of BI Digital Content Competition 2023
www.bi-digitalcompetition.com
Lampiran
Gambar 2. Wawancara dengan Bapak Taufik
Gambar 3. EXPO GMP
Gambar 4. Stand UMKM EXPO




Comments
Post a Comment